Pelita Baru Desa Ampas, Setelah 72 Tahun Kemerdekaan Akhirnya Ada Listrik

0
260
Pelita Baru Desa Ampas, Setelah 72 Tahun Kemerdekaan Akhirnya Ada Listrik

Pelita Baru Desa Ampas, Setelah 72 Tahun Kemerdekaan Akhirnya Ada Listrik

Papua adalah wilayah paling timur Indonesia yang selama puluhan tahun belum merasakan atau bahkan mengetahui cara penggunaan listrik dan teknologinya. menurut data kementerian ESDM per Desember 2016, Provinsi papua hanya memiliki 54% Rasio elektrifikasi, yang berarti hampir setengah dari wilayah papua masih belum mendapat haknya menggunakan listrik yang secara umum seluruh wilayah di Republik Indonesia sudah mencapai 80% keatas dalam rasio tersebut.

Negeri yang kaya akan sumber daya alamnya, negeri yang punya keunikan tersendiri, budaya yang beragam dan senyum yang selalu ditunjukkan untuk pendatang ke pedesaan mereka provinsi yang memiliki cadangan emas terbesar di kawasan Asia ini baru saja mendapatkan kembali marwahnya dengan menguasai kembail 51% penguasaan pengelolaan tambang emasnya bersama sebuah perusahaan swasta asal Amerika dengan 49% saham mereka.

Puluhan tahun merdeka, namun anak cucu di Papua hanya merasakan belajar pada siang hari yang terang. Malam hari mereka tidur cepat karena penerangan yang tidak ada. Pelita, mungkin banyak yang tidak tahu apa itu pelita. Pelita merupakan satu satunya alat penerang yang dimiliki oleh pelosok desa di Papua seperti desa Ampas.

Pelita yang dimaksud adalah alat penerang yang berbahan dasar botol obat obatan bekas yang di bersihkan dan di bolongi pada bagian tutupnya untuk diselipkan tali sumbu yang cukup panjang untuk mencuat ke permukaan tutup botol untuk dibakar dan menerangi ruangan seadanya dan tahan lama. didalam botol terdapat BBM.

BBM merupakan singkatan yang digunakan masyarakat Papua untuk menjadi sumber utama yang dapat mempertahankan api Pelita. namun Pelita bukanlah murah untuk digunakan setiap malam. BBM yang digunakan untuk menghidupkan Pelita hanya bisa didapatkan terbatas dan harus dibeli pada jarak yang belum tentu dekat. Butuh satu hingga dua hari melewati bukit dengan berjalan kaki untuk menemukan kota/kabupaten yang memiliki pasar dengan persediaan BBM.

Harga BBM sebelum presiden Jokowi menetapkan program BBM satu harga, pergerakan harganya sangat dinamis tergantung persediaan di pasar. angkanya dapat mencapai harga Rp. 15.000;/liter dari harga normal yang hanya setengahnya yaitu Rp. 6.500/liter di pasar bagian barat Indonesia. satu liter BBM untuk satu Pelita hanya dapat bertahan selama seminggu dan apabila dua pelita, hanya 3 hari saja. Apabila diaplikasikan dalam sebulan rata rata Rp. 200.000 habis untuk membeli BBM saja.

Penggunaan Energi Baru Terbarukan seharusnya dapat membantu mereka untuk dapat paling tidak merasakan sebuah lampu penerang dimalam hari. bukan untuk berfoya foya, bermain laptop ataupun browsing internet seperti yang pembaca lakukan saat ini, tapi mereka anak-anak Papua menggunakannya untuk belajar menulis huruf, berhitung, dan membaca.

“Kita belajar mata pedis, sakit, kena asap mata merah” ucap Lala, bocah perempuan desa Ampas yang kerap menggunakan Pelita sebagai penerang malam di desa Ampas, Papua.

Sedih melihat nasib mereka seperti itu, perubahan sebenarnya dapat dilakukan oleh semua orang, potensi dimiliki dalam setiap jiwa mahasiswa yang sejatinya memberikan solusi bagi permasalahan pelik di Indonesia ini, hilangkan tabiat mengkritik tanpa memberikan solusi. Indonesia butuh solusi untuk permasalahan dasar ini, kelistrikan yang merata untuk wilayah Papua.

“Termasuk saya sendiri juga, ingin adanya terang” Yohanis Yafok, Kepala Desa Ampas, Papua.

Sosok kepala desa yang tidak lagi ingin berdiam diri melihat anak anak desa ampas yang belajar menuntut ilmu pada malam hari hanya menggunakan pelita. beliau bergerak mencari solusi agar desanya dapat teraliri listrik. mencari jalan kemanapun agar desa ampas mendapatkan “terang” yang diimpikan selama ini. usahanya membuahkan hasil, beliau disarankan pergi menuju kantor kabupaten untuk meminta listrik.

“Bisa desa kami dapat listrik ?” pertanyaan sederhana yang keluar dari seorang kepala desa daerah terpencil Papua untuk masa depan penerangan desanya. Pemerintah kabupaten menyarankan beliau untuk mengajukan surat (proposal) agar dapat diajukan ke pusat pemerintahan untuk dibantu.

Perjuangan sang kepala desa tidaklah sia sia, program PLTS langsung diturunkan oleh pemerintah untuk dapat diaplikasikan di desa Ampas, Papua. persyaratan yang harus disediakan oleh sang kepala desa hanyalah sepetak lahan yang ada untuk dibangun PLTS sederhana untuk kebutuhan desa Ampas. 80 panel surya dengan total 20 KWP diintegrasikan menjadi PLTS dibangun dalam waktu satu tahun. 84 Kepala keluarga dipasangkan meteran, listrik mulai mengalir di desa Ampas.

“waktu dinyalakan, Luar Biasa !” ekspresi kegembiraan warga desa yang selama ini belum pernah atau bahkan tidak pernah berpikir untuk dapat menggunakan teknologi seperti itu di lingkungannya.

Pemuda desa Ampas, Feri, diberi tanggung jawab untuk menjadi operator PLTS di desa Ampas. Pelatihan mengenai basic pengelolaan PLTS mulai dari membersihkan Panel, mengecek sistem, memasang sambungan listrik dilakukan oleh Feri dan selalu dibantu oleh warga untuk proses pembersihan site pembangkit listrik tenaga surya.

“Saya tahunya membantu masyarakat” pernyataan yang diutarakan oleh Feri untuk komitmennnya menjaga Pelita baru masyarakat desa Ampas.

“Selama puluhan tahun yang lampau, (kami hidup dalam) gelap. tapi mulai dipasang (listrik) ke mari, dinyalakan, luar biasa, hari ini menyala, menyala luar biasa” rasa syukur yang amat besar disampaikan kepala desa Ampas, Papua kepada menteri dan bapak presiden sudah dibangunkan lampu di desanya.

Bandingkan dengan kita yang boros dalam penggunaan listrik dirumah, kantor, maupun tempat umum. Bagaimana sahabat merespon hal tersebut ? program potong 10% listrik untuk penghematan energi demi membantu saudara kita di timur Indonesia merupakan hal kecil berdampak besar bagi mereka yang selama ini belum pernah merasakan apa yang kita sudah rasakan mungkin dari lahir.

Berusahalah menghargai penggunaan energi, kalau bisa berhematlah dalam menggunakan kebutuhan sehari hari, ingat bahwa sampai saat ini terdapat daerah daerah seperti desa Ampas yang belum teraliri listrik. Indonesia bisa menjadi negara mandiri energi apabila kita efektif dalam penggunaan listrik.

Comments

comments